diceritakan kembali, sesuai dengan History of Pocari Sweat (Full Video): http://youtu.be/Ye5iHnmz5XU
Prolog
OTSUKA PHARMACEUTICAL
Otsuka Pharmaceutical Co., Ltd. didirikan pada tanggal 10 Agustus 1964. Perusahaan ini adalah perusahaan yang berorientasi pada sektor farmasi dan produk-produk kesehatan lainnya.
AKIHIKO OTSUKA (Generasi ke-3 dari OTSUKA grup)
Hari ini aku tahu akan kembali sangat sibuk di Otsuka Pharmaceutical, perusahaan yang didirikan oleh kakekku. Saat ini aku menjabat sebagai kepala pabrik di sana, dan bertanggung jawab sepenuhnya atas produksi dari perusahaan Otsuka Pharmaceutical. Di Tokushima, tempat perusahaanku berada, cuaca sangat cerah. Aku sampai di perusahaan dengan semangat kerja tinggi. Tahun 1973 ini, usiaku baru 35 tahun, energiku berlimpah dan penuh dengan ide-ide baru. Sampai di pabrik, seperti biasa, aku menginspeksi jalannya proses produksi. Salah satu produk kebanggaan perusahaan kami adalah minuman Oronamin C dan obat oles Oronine H, yang diciptakan dengan jeniusnya oleh ayahku, presiden direktur Otsuka Pharmaceutical yang ke-2, Masahito Otsuka. Aku sangat bangga padanya. Perusahaan Otsuka menjadi sangat maju dan berkembang salah satunya berkat hasil penjualan dari ke-2 jenis produk itu.
Karya-karya ayah ini menyebabkan aku banyak merenung. Bila ayah sanggup menciptakan produk yang sungguh-sungguh bagus seperti itu, mengapa aku tidak? Aku harus mampu juga menciptakan sebuah produk yang belum pernah ada sebelumnya! Aku harus mampu mengembangkan sebuah produk yang juga dapat menjadi pilar perusahaan. Sebuah produk yang membanggakan dan menjadi ciri khas perusahaan Otsuka dengan tanganku sendiri. Hal ini bukan hanya semata-mata demi menunjukkan eksistensiku, tetapi juga demi perusahaan yang didirikan oleh kakekku ini. Perusahaan Otsuka Pharmeceutical yang sangat kubanggakan ini. Apa yang bisa kuberikan untuk perusahaan agar bisa berkembang lebih pesat lagi?
ROKURO HARIMA (Penangung Jawab Pengembangan Minuman pada OTSUKA Grup)
Aku sangat menyukai pekerjaanku di Otsuka Pharmaceutical. Di sini aku bisa mengembangkan kemampuanku semaksimal mungkin, dan dihargai dengan baik oleh perusahaan. Aku sudah cukup lama bekerja di sini, dan aku juga yang menentukan rasa dari Oronamin C. Menurutku aku cukup ahli dalam menentukan sebuah rasa minuman yang pas dan bisa dijual. Kemampuanku ini yang membuatku dijuluki Ahli Rasa oleh rekan-rekanku.
Sudah cukup lama aku memperhatikan kepala pabrik kami, Bapak Akihiko Otsuka, yang kebetulan adalah cucu pendiri perusahaan kami. Aku sangat menyukainya dan semangatnya yang besar dalam bekerja. Beliau sangat bertanggung jawab pada pekerjaannya, dan sangat berdedikasi tinggi. Tetapi aku juga tahu, beliau diam-diam selalu berpikir keras, bagaimana cara menciptakan sebuah produk baru yang bisa menjadi ciri khas baru perusahaan kami. Beliau selalu tampak bersungguh-sungguh. Dalam hal ini, aku sangat mengagumi beliau. Dan terus terang, demi beliau dan demi perusahaan ini, aku ingin sekali memberikan segala kemampuanku. Sungguh tak kusangka, kesempatan ini datang padaku. Sebuah peristiwa yang kualami telah memberi ilham padaku. Aku berharap ide ini bisa diterima oleh Bapak Akihiko. Aku pun segera menemui beliau.
“Maaf, Pak... ,” kataku setelah mengetuk dan masuk ke ruangan beliau.
Bapak Akihiko tersenyum memandangku dan berkata, “ Ah bapak Harima... ada apa?”
Aku kemudian berjalan mendekati beliau, dan mengeluarkan benda yang sudah kupersiapkan di kantong jas laboratoriumku, dan langsung menyerahkannya kepada beliau. Bapak Akihiko sesaat menimang benda itu, dan bertanya padaku,” Bukankah ini cairan infus produk kita, iya kan?”
“Benar pak,” jawabku
Bapak Akihiko memandangku heran, menunggu penjelasanku lebih lanjut.
“Bagaimana kalau cairan infus dijadikan minuman, Pak?” lanjutku
Bapak Akihiko sesaat tampak tertegun mendengar kata-kataku. Kulihat cahaya rasa ingin tahu mendadak bersinar di matanya.
“Minuman cairan infus? Maksud Pak Harima apa?”
“Begini, Pak,” kataku kemudian. “ Bapak tahu saya mengunjungi Mexico beberapa waktu yang lalu untuk survei buah-buahan tropis dalam rangka mengembangkan minuman yang baru. Di sana saya memperoleh pengalaman yang mengkhawatirkan, Pak. Saya mengalami diare yang cukup parah karena pengadaan air bersih dan sanitasi di sana yang sangat buruk. Dan saya sampai terpaksa harus dirawat di rumah sakit kecil dengan fasilitas medis yang sangat terbatas”.
Pak Akihiko yang telah mengetahui pengalaman tidak enakku ini sebelumnya menungguku menyelesaikan kalimatku.
“Pada saat dokter memberikan saya obat, dokter juga memberikan saya air soda dalam botol untuk membantu saya menelan obat itu. Waktu itu saya sangat heran mengapa dokter memberi saya air soda dan bukannya air putih biasa, tetapi kemudian dokter menjelaskan bahwa kualitas air di sana sedang sangat buruk. Dan karena saya juga sudah menduga bahwa saya mengalami diare ini karena sanitasi dan kualitas air yang buruk di sana, saya dapat menerima penjelasan dokter itu,” lanjutku
“Selain itu, sang dokter juga menjelaskan bahwa air dan zat gizi lain di dalam tubuh berkurang secara drastis karena terbuang saat diare. Karena itu, kalau tidak menambah kadar air dalam tubuh, bisa terjadi dehidrasi yang bisa sangat berbahaya. Kemudian, setelah cairan tubuh berhasil dikembalikan, zat gizi juga harus ditambahkan ke dalam tubuh kita. Nah, saat itu saya berpikir, kalau saja ada fasilitas infus di rumah sakit itu, masalahnya akan langsung selesai. Karena peristiwa inilah, Pak, saya kemudian teringat sebuah pengalaman saya yang lama,” aku berhenti sejenak berkata. Bapak Akihiko memandangku dengan pandangan serius.
“Saya pernah melihat seorang dokter yang minum langsung cairan infus dari botolnya, untuk mengganti cairan tubuhnya yang terbuang setelah berjam-jam melakukan operasi. Karena itu kemudian saya berpikir, bahwa ada baiknya kita melakukan pengembangan pada cairan infus itu agar bisa layak minum, Pak. Hal ini saya kemukakan karena cairan infus merupakan bidang yang kita kuasai juga,” aku melanjutkan dengan antusias. Bapak Akihiko tampak terdiam, pandangannya terlihat sangat dalam. Kerutan tajam muncul di keningnya, kelihatannya beliau berpikir keras saat ini. Aku mengatakan hal ini berdasarkan pada kenyataan bahwa perusahaan Otsuka Pharmaceutical menempati peringkat pertama pada produksi cairan infus untuk seluruh negeri.
Sementara itu, pandangan Bapak Akihiko semakin tajam memandang botol cairan infus di tangannya, aku tahu, beliau sedang mempertimbangkan usulanku dengan hati-hati, dan dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang pelik, yang ilmuwan seperti aku susah untuk bisa mengerti.
Akhirnya beliau mengangkat kepalanya, dan berkata tenang kepadaku, “ Mungkin saat ini belum waktunya, Pak Harima”.
Sesaat aku tertegun, tetapi aku segera menangkap kata-katanya. Bukan karena ia menolak langsung usulanku, tetapi ia akan mempertimbangkan dengan tenang usulanku dan mencari saat yang tepat untuk mulai melaksanakan usulanku, bila ternyata beliau berpikir bahwa usulanku cukup layak untuk mulai dikerjakan. Aku mengangguk dengan hormat kepada beliau, dan mengundurkan diri kembali ke pekerjaanku.
Tiga Tahun Kemudian (1976)
Pada suatu siang, saat aku sedang tekun mengerjakan tugasku bersama seorang staffku yang sangat berbakat dan tekun bernama Akihisa Takaichi, peneliti muda yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya, tiba-tiba salah seorang pesuruh kantor datang menemuiku dan berkata bahwa kami berdua dipanggil oleh Bapak Akihiko Otsuka. Beliau saat ini sudah tidak menjabat sebagai kepala pabrik lagi, tetapi telah diangkat menjadi Presiden Direktur Otsuka Pharmaceutical yang ke-3, menggantikan ayahnya, pada umur yang masih sangat muda, 38 tahun. Beliau bahkan bekerja semakin keras dan tekun kini, seakan-akan semangatnya tak pernah habis. Bersama Akihisa, kami kemudian menemui Bapak Akihiko.
“Saya memanggil anda berdua, karena ada satu permintaan,” demikian Bapak Akihiko berkata pada kami sesaat setelah kami bertemu. Aku dan Akihisa mengangguk dengan hormat.
“Harima, anda dahulu pernah mengutarakan sebuah usulan kepada saya untuk mengembang sebuah produk minuman dari cairan infus. waktu itu saya mengatakan kepada anda bahwa belum saatnya untuk mengembangkannya. Nah, menurut saya sekarang ini saat yang tepat!”
Aku terkejut, sekaligus merasa senang. Bapak Akihiko benar-benar mempertimbangkan usulanku dengan serius dan tidak melupakannya sama sekali.
Kemudian Bapak Akihiko melanjutkan kata-katanya,” Pada saat ini, jogging sedang menjadi trend di masyarakat. ini membuktikan kesadaran masyarakat akan kesehatan semakin meningkat”.
Aku agak heran mendengar penjelasan beliau, “Maksud Bapak, mengubah cairan infus agar enak diminum?” tanyaku
“Tidak, sebenarnya saya ingin menciptakan minuman kesehatan!” Bapak Akihiko menerangkan kemudian, “ Kalau berkeringat, elektrolit tubuh seperti ion natrium atau ion kalium bersama air. Saya ingin menciptakan minuman yang komposisinya sama dengan keringat sehingga menambah elektrolit tubuh, dan menggantikan elektrolit yang terbuang”.
Aku mengangguk, setuju terhadap konsepnya. Kemudian Bapak Akihiko melanjutkan penjelasannya tentang rasa minuman yang diinginkannya.
“Yang saya inginkan adalah rasa yang tidak membosankan. Rasa yang walaupun diminum setiap hari harus selalu terasa enak di tenggorokan,” demikian kata beliau.
Aku dan Akihisa langsung berpikir keras. Akihisa terlihat antusias dan penasaran sekaligus. Diam-diam, aku merasa senang melihat raut mukanya.
Saat sudah keluar dari ruangan presiden direktur, Akihisa berkata padaku,” Tapi pak, enak di tenggorokan itu seperti apa ya?”. Aku tersenyum mendengar kalimatnya. Akihisa Takaichi benar-benar seorang peneliti muda yang sangat serius dan pintar.
“Takaichi, itulah tugasmu mencari tahu, rasa apa yang enak di tenggorokan, walau akan memakan waktu yang lama”.
Akihisa memandangku bingung, “Maksud Bapak?” tanyanya kemudian
“Saya serahkan pengembangannya kepada kamu! Lakukan seperti yang kamu mau!” kataku
Sejurus Akihisa tampak terkejut, tapi semangat tampak tiba-tiba berkobar di wajahnya, “Baik Pak!” katanya dengan antusias.
Aku mengangguk padanya. Aku memberikan kesempatan ini padanya agar ia bisa menggunakan bakatnya yang besar itu demi perusahaan, Dan agar ia bisa mengembangkan dan membina dirinya juga. Kemajuannya juga akan memajukan perusahaan di kelak kemudian hari. Walaupun aku tahu penelitian ini akan memakan waktu yang lama, dan memerlukan kerja keras, aku berharap ia akan mampu melaksanakannya dengan baik.
AKIHISA TAKAICHI (Peneliti Muda di OTSUKA Grup)
Aku sangat senang mendapatkan kesempatan besar ini. Dan aku juga sangat menghargai Bapak Akihiko dan Bapak Harima yang telah memberikannya padaku. Semangatku langsung timbul. Aku langsung mulai memperhitungkan banyak hal di kepalaku, bahkan hanya sesaat setelah bapak Harima menyerahkan tugas ini padaku. Keringat, itu kata kunci pertama yang dberikan oleh Bapak Akihiko. Aku harus tahu, apa komposisi keringat, dan apa rasanya. Aku benar-benar harus memahami dahulu, keringat itu apa.
Aku segera menuju ke tempat sauna untuk penelitian pertamaku. Aku mengumpulkan contoh keringatku yang keluar pada saat aku berada di sauna. Kemudian, aku sengaja berjala-jalan di sekitar perusahaan, di saat matahari sedang terik bersinar. Aku juga mengumpulkan contoh keringatku yang keluar pada saat aku sedang berjalan-jalan di bawah sinar matahari siang ini. Kemudian aku mulai melakukan pekerjaanku, aku menganalisa komposisi keringat yang kuambil dari dua tempat yang berbeda itu. Aku menemukan beberapa hal menarik yang membenarkan dugaanku. Aku hendak memeriksa kadar kadar ion natrium atau kadar garam, yang menjadi sebab rasa asin pada keringat. Nilai konsentrasi kadar Natrium pada contoh keringat dari sauna, jauh lebih tinggi daripada contoh keringat dari kegiatan berjalan-jalan biasa. Jadi aku mengerti bahwa keringat itu mempunyai banyak jenis, sesuai dengan aktivitas yang dilakukan. semakin berat aktivitas dan semakin panas suhunya, maka kadar garam yang keluar akan semakin tinggi.
Kemudian aku menjelaskan pada asisten yang membantu penelitianku, bahwa minuman yang ingin diciptakan adalah minuman untuk menambah kadar elektrolit dalam kegiatan sehari-hari, sehingga patokan kadar natrium yang diambil adalah pada kadar natrium yang rendah.
Aku langsung melakukan uji coba, dengan persis aku menciptakan minuman dengan komposisi yang sama dengan komposisi keringat pada saat aktivitas sehari-hari. Kemudian aku langsung menemui Bapak Harima untuk menunjukkan hasilnya.
Bapak Harima mencium baunya terlebih dahulu, sebelum meneguk minuman yang kupersiapkan baginya. Ekspresinya tampak berubah, “Rasanya pahit, susah sekali untuk ditelan,” demikian Pak Harima berkata padaku.
Aku mencoba menjelaskan pada Pak Harima,” Tapi Pak, walaupun rasanya pahit, tetapi kalau untuk kesehatan, bukannya orang-orang akan mau meminumnya?”
Aku tahu yang menimbulkan rasa pahit pada minuman yang kuciptakan adalah ion Kalium dan ion magnesium yang juga terdapat pada keringat.
Pak Harima kemudian berkata,” Rasa pahit seperti ini tidak bermasalah bila diminum sebagai obat, tetapi bukankah yang ingin kita ciptakan ini adalah minuman ringan dengan rasa yang enak di tenggorokan dan bisa diminum setiap saat? Jadi, jangan lupakan itu,” dengan sabar Pak Harima menjelaskan padaku. Aku tersentak mendengarnya. Bapak harima adalah seorang ahli rasa, yang dapat menentukan sebuah produk dapat diterima atau tidak oleh konsumen hanya dengan sekali mencicipnya. Meyakinkan bapak Harima sama sekali bukan perkara yang gampang. aku benar-benar harus menciptakan rasa yang berbeda, rasa yang disetujui oleh beliau.
Siang malam aku berpikir keras, bahkan kadang-kadang aku tetap bekerja walaupun pada hari libur. Hal ini sungguh sangat menantangku. Aku menganggap penciptaan minuman kesehatan ini adalah sangat serius. Aku ingin membantu Bapak Akihiko untuk menciptakan sebuah minuman yang belum pernah ada sebelumnya.
Akhirnya aku sampai pada suatu keputusan untuk menambahkan pemanis alami untuk menyamarkan rasa pahit pada minuman yang kuciptakan itu. Kemudian kembali aku meminta Bapak harima untuk mencoba temuan terbaruku itu.
“Pahitnya memang berkurang, hanya keseimbangan rasanya tidak tepat. Rasa minuman ini masih terlalu manis. Minuman yang ingin kita ciptakan adalah minuman kesehatan, dan bukan minuman jus. Kadar gulanya harus ditekan serendah mungkin. Konsentrasi kadar gula harus berada di bawah 10%, kamu mengerti kan?” Pak Harima memandangku dengan bijak. Aku mengangguk, mengerti dengan jelas apa yang beliau maksud.
Pada saat itu, minuman ringan pada umumnya mengandung kadar gula lebih dari 12%, dan minuman yang laris adalah minuman yang manis. Tetapi Bapak Harima memintaku mengembangkan minuman yang tidak terlalu manis. Aku harus terus berusaha menciptakannya, aku yakin aku bisa.
Tiga Tahun Kemudian (Mei 1979)
Aku sudah mengujicoba lebih dari 1000 jenis minuman. Bahkan Bapak Akihiko pun telah mencobanya beberapa kali. Minuman terbaruku dicoba hari ini, tetapi kembali Bapak Akihiko mengatakan bahwa minuman yang kukembangkan masih tetap memiliki rasa pahit. Aku menghela nafas, tetapi belum berputus asa. Semangatku masih tinggi. tiba-tiba seorang staff mengetuk pintu dan membawa serbuk minuman instan yang sedang diujicobanya. Pak Akihiko juga mencobanya, tetapi masih mengatakan bahwa minuman itu belum sempurna. Pak Akihiko memandang 2 gelas minuman ujicoba yang sedang berada di hadapannya, dan tanpa kuduga tiba-tiba langsung mencampurkan keduanya. Kami kaget sekali. Tapi justru setelah meneguk minuman campuran itu, Pak Akihiko berkata, “ Ini baru enak”.
Aku terpana.
Setelah Pak Harima dan aku mencobanya, kami menyadari bahwa memang ada sesuatu yang berbeda. “Rasa pahitnya hilang,” demikian Pak Harima berkata, menyuarakan pemikiranku juga. “Minuman serbuk instan rasa apa ini?” tanya beliau kepada staff tersebut.
“Rasa jeruk, pak” jawab staff itu.
Pak Harima berkata,” Mungkin rasa pahit yang khas dari jeruk, dapat menutupi rasa pahit yang tidak enak”.
Aku sangat takjub. Berkat Pak Akihiko yang melakukan hal yang tidak terduga, pengembangan minuman ini menjadi maju satu langkah.
Aku juga sangat terinspirasi. Saat itu juga aku membeli bermacam-macam jenis jeruk dan membawanya ke rumah. Satu-persatu aku mencampurkan air jeruk yang kubeli ke dalam minuman. Akhirnya, pada satu jeruk, memberikan efek yang luar biasa dalam menghilangkan rasa pahit.
Penelitianku yang lama, dan dengan bantuan tindakan Bapak Akihiko yang tak terduga, akhirnya membuahkan hasil. Pada percobaan tahap akhir, aku menyajikan pada Pak Harima dan peneliti-peneliti lain untuk mencoba minuman dengan kadar gula 6,2 % dan 7%. Semua peneliti lain lebih menyukai minuman dengan kadar gula yang lebih tinggi. Kulihat Pak Harima merenung karenanya, kelihatannya beliau sedang memikirkan sesuatu hal.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar sebuah kabar yang mengejutkan. Para peneliti yang waktu itu mencoba minuman di laboratorium, sekarang mengatakan bahwa minuman dengan kadar gula 6,2% lebih enak dibandingkan dengan minuman dengan kadar gula 7%. Mengapa bisa begitu? Pak Harima kemudian menjelaskan padaku. Rupanya ia mengajak para peneliti itu untuk mendaki Gunung Bisan, dan sesampainya di puncak, kemudian meminta para peneliti untuk minum dari 2 macam minuman itu, hanya dengan label A dan B. Para peneliti mengatakan bahwa minuman B, yang mempunyai kadar gula 6,2%, terasa lebih enak. Dan Pak harima menjelaskan, bahwa saat berkeringat, minuman dengan kadar gula lebih rendah akan terasa lebih segar, dan karena ini minuman kesehatan, maka harus terasa enak diminum saat beraktivitas. Pak Harima memang hebat. Bahkan kemudian pak Akihiko pun menyetujui rasa minuman ini. Pekerjaanku selesai dengan baik.
AKIHIKO OTSUKA (Presiden Direktur OTSUKA Grup)
Hari ini aku mengadakan rapat direksi untuk mengenalkan minuman kesehatan baru yang telah berhasil dikembangkan oleh staff peneliti muda, Akihisa Takaichi dan dibantu mentornya Rokuro Harima bersama denganku.
Reaksi para direktur lain saat mencoba minuman ini nyaris sama, mereka tidak menyukai rasanya yang agak asin dan dengan kadar manis yang kurang.
Rapat direksi menjadi ricuh dengan suara-suara penolakan dari para direktur lain.
Tetapi aku berpendapat lain.
“Saya mengerti tanggapan anda,” kataku menenangkan mereka. “Tetapi anda saat ini meminumnya di ruangan rapat. Cobalah meminumnya setelah berkeringat, dan dipersilahkan minum berulang kali. Dengan demikian anda baru akan mengerti hebatnya produk ini!”
“Saya putuskan perusahaan kita akan menjual minuman ini!!” kataku tegas. Aku yakin pada kepekaan rasa diriku dan Pak Harima. Produk ini pasti akan berhasil!
Produk ini diberi nama Pocari Sweat. Berasal dari kata Pocari, yang memberi kesan menyegarkan dan Sweat yang berarti keringat dalam bahasa Inggris.
JIRO TANAKA (Kepala Tim Marketing OTSUKA Pharmaceutical)
Pada bulan April 1980 ini, perusahaan tempatku bekerja, Otsuka Pharmaceutical, mulai memasarkan minuman kesehatan baru dengan nama Pocari Sweat. Perusahaan menginstruksikan semua karyawan marketing dan karyawan lainnya mengunjungi toko-toko setempat, agar Pocari Sweat dapat dipajang di banyak tempat. Akupun turun tangan langsung mengunjungi toko-toko langgananku. Aku meminta pemilik toko untuk mencoba dahulu Pocari Sweat sebelum ia jual, tetapi reaksi pemilik toko negatif. ia menolak menjualnya di tokonya dengan alasan rasa minuman yang tidak enak dan tidak bakal laku dijual. Aku menjadi kebingungan menghadapinya. Dan bukan hanya diriku, semua staff marketing lainnyapun mengalami masalah yang sama. Bahkan saat kami mengadakan uji coba penjualan, para pembeli malah marah karena diminta membayar untuk minuman yang mereka rasa tidak enak. Apa yang harus kulakukan?
Penjualan Pocari Sweat disambut sangat buruk oleh konsumen. Aku terpaksa melaporkan hal ini langsung kepada Presiden Direktur Akihiko. Dan pada saat itulah, Presiden Direktur Akihiko mengeluarkan sebuah keputusan yang benar-benar mengejutkan.
“Bagikan dengan gratis!” kata beliau dengan tenang. Aku kaget bukan kepalang, kupikir aku salah dengar.
“Kita bagikan Pocari Sweat secara gratis, agar diminum setiap orang di setiap tempat dan dalam jumlah yang besar,” lanjut beliau. Ah, Kelihatannya aku benar-benar tidak salah dengar.
“Pak, berapa yang harus dibagikan?” aku bertanya dengan suara bergetar.
Bapak Akihiko menjawabku dengan suara yang pasti, “ Tak terbatas!”
“Keunggulan Pocari Sweat tidak bisa dirasakan kalau tidak diminum berulang-ulang. Jadi kita akan melakukannya dengan tuntas, kita akan bagikan dengan jumlah tak terbatas. Jangan pikirkan jumlah kerugian dulu. yang hendak kita lakukan di sini adalah menciptakan pasar baru yang belum pernah ada. Walaupun pada awalnya tidak bisa dijual, itu adalah hal yang sangat wajar. Yang paling penting sekarang adalah mensosialisasikan konsep produk secara tepat, daripada hanya sekedar menjual produk. Dengan demikian nantinya konsumen akan mengerti keunggulan Pocari Sweat, penjualan akan meningkat belakangan! ,” demikian penjelasan dari Pak Akihiko.
Aku mengangguk, mulai mengerti pemikirannya. Benar, yang harusnya pertama kali lakukan adalah menciptakan pasar baru dulu, dan setelah pasar terbentuk, baru kami bisa memasarkan produk. Aku memandang Pak Akihiko dengan kagum. Pemikiran beliau benar-benar sangat luar biasa!!
Kemudian, staff marketing mulai rapat dan mengajukan ide tentang tempat paling efektif untuk membagikan produk Pocari Sweat. Pocari Sweat terasa paling enak diminum saat sedang berkeringat, karena itu kami harus menemukan tempat yang tepat untuk mulai melakukan operasi bagi-bagi Pocari Sweat secara gratis. Aku memilih lapangan baseball tempat anak-anak latihan di tengah terik matahari, dan mulai membagikan Pocari sweat secara gratis kepada mereka. tetapi aku tidak hanya sekedar membagikan saja, aku juga menjelaskan tentang Pocari Sweat. Anak-anak yang sedang berkeringat itu menganggap rasa Pocari Sweat enak dan langsung bisa diteguk. Aku menjelaskan pada mereka bahwa itu karena mereka berkeringat, maka mereka kehilangan cairan tubuh. Padahal tubuh manusia 60%-nya terdiri dari cairan. dan karena Pocari Sweat memiliki komposisi yang mirip cairan tubuh, maka Pocari Sweat akan dapat langsung menggantikan cairan tubuh yang terbuang itu.
Staff marketing lain menempuh cara yang nyaris sama, membagikan Pocari Sweat kepada orang-orang yang sedang berkeringat dan banyak kehilangan cairan tubuh. Dan dengan orang-orang ini, komentar mereka terhadap Pocari Sweat nyaris selalu positif.
Pada saat itu, jumlah Pocari Sweat yang dibagikan gratis sebanyak lebih dari 30 juta kaleng atau setara dengan Rp. 400 milyar rupiah. Tetapi Pak Akihiko tetap terus membagikan Pocari Sweat secara gratis sepanjang tahun itu, karena menurut beliau yang penting adalah bukan keuntungan sekarang, tetapi pada masa depan.
Setahun Kemudian (Di Musim Panas)
Musim panas pada tahun ini sangat terasa sekali panasnya. Matahari terasa sanat terik. Di kantorpun bahkan aku merasa sangat kepanasan. Tiba-tiba terjadi hal penting yang menyibukkan divisi pemasaran kami. Telepon pemesanan untuk produk Pocari Sweat tiba-tiba melonjak tajam. Semua toko kehabisan stok Pocari Sweat mereka, dan menelepon kami untuk meminta pengiriman Pocari Sweat ke toko mereka. Mengherankan, Pocari Sweat tiba-tiba laris secara drastis pada musim panas ini.
Rupanya strategi Bapak Akihiko mulai membuahkan hasil. Dengan cara membagikan Pocari Sweat secara gratis, konsep Pocari Sweat telah dimengerti oleh konsumen. Penjualan Pocari Sweat tahun ini kemudian melonjak 3 kali lipat dibanding dengan tahun sebelumnya. Keyakinan Bapak Presiden direktur Akihiko akhirnya berbuah. Pocari Sweat menjadi minuman kesehatan paling terkenal di seluruh dunia.
Epilog
Pocari Sweat saat ini telah dijual di 16 negara, termasuk di Indonesia. Di Indonesiapun promosi Pocari Sweat dilakukan dengan sangat baik, yaitu dengan cara membagi-bagikan Pocari Sweat di saat buka puasa, yaitu saat mulai boleh mengonsumsi makanan dan minuman di bulan puasa. Dan juga karena Indonesia banyak terjadi penyakit demam berdarah, Pocari sweat juga dibagikan di rumah sakit- rumah sakit. Pengenalan produk Pocari Sweat di Indonesia juga dilakukan secara strategis, hasilnya kini, Pocari Sweat adalah minuman kesehatan pengganti ion tubuh yang paling dikenal dan paling dipercaya di Indonesia.
Ada 3 gelombang kesuksesan Pocari Sweat.
Gelombang pertama adalah saat ide itu pertama kali muncul oleh Pak Harima.
Gelombang ke dua adalah saat rasa dan komposisi Pocari Sweat berhasil diciptakan dengan kerjasama dari Bapak Akihiko, Bapak Harima dan Bapak Takaichi.
Dan gelombang ke tiga adalah saat Bapak Akihiko dengan strategi penjualannya yang brilian berhasil menjadikan Pocari Sweat sebagai produk yang sangat laris dan dikenal masyarakat dengan image minuman isotonik pengganti ion tubuh yang begitu kuat.
Dengan sejarah yang begitu panjang, penuh dengan kerja keras, dengan banyak kegagalan dan jalan buntu, akhirnya berkat dedikasi tinggi, semangat yang pantang mundur dan pemikiran yang cemerlang, Pocari Sweat berhasil mendapatkan nama yang besar seperti sekarang ini.
Dan karena Image Pocari Sweat juga dibentuk dengan pembuktian, bukan hanya sekedar iklan-iklan kosong, maka saya dapat mengerti mengapa produk Pocari Sweat ini akan menjadi merk yang bertahan lama sebagai nomor satu di pasaran, sebagai merk yang paling banyak dicari konsumen.
Sebagai merk yang sangat dipercayai. Nama Pocari Sweat sendiri telah menciptakan image minuman kesehatan isotonik yang dapat dipercaya.
Inilah hasil kerja keras itu, yaitu kepercayaan dari masyarakat kepada Pocari Sweat sebagai produk yang mampu memberikan bukti nyata manfaatnya penggunaannya!
catatan:
*saya menganggap semua bagian dari video ini adalah inspirasi sesungguhnya dan bukan hanya bagian-bagian tertentu saja, sehingga hanya dengan menceritakannya kembali dari sudut pandang sendiri, saya bisa mengungkapkan nilai-nilai, edukasi dan inspirasi yang didapat dari tayangan video ini.
*beberapa tahun yang lalu, saya terkena penyakit demam berdarah, dan saat diopname di rumah sakit, nyaris semua pengunjung yang membesuk saya membawa sebotol Pocari Sweat untuk saya. Mereka mengatakan Pocari sweat sangat bagus untuk menambah ion tubuh yang terbuang. Saya beranggapan sama. Dan rasa Pocari Sweat yang tidak terlalu manis, justru membantu saya yang mengalami panas tinggi dan mual, untuk bisa minum Pocari Sweat tanpa merasa enek. Sekarang, setiap saya membesuk teman yang kebetulan sedang dirawat di rumah sakitpun, saya selalu membawa Pocari Sweat untuk mereka.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar