Menjadi seorang
perempuan mungkin sama rasanya dengan menjadi manusia pada umumnya. Sama-sama
punya kelebihan dan kekurangan, sama-sama punya peluang dan kesempatan. Tapi
menjadi seorang perempuan, dalam pandangan saya sebagai seorang perempuan juga,
memiliki makna yang berbeda. Sebagai seorang perempuan, istri dan ibu, saya
mempunyai banyak kendala, sekaligus kesempatan dalam mengembangkan diri saya.
Sebagai seorang istri dan ibu, saya harus memperhatikan juga perkembangan
keluarga saya, bertanggung jawab penuh atas tumbuh kembang anak-anak. Tapi,
apakah hal ini menjadi alasan untuk saya berhenti berkarya? Tentu tidak.
Perempuan seharusnya mempunyai kebijaksanaan lebih yang bisa membuatnya melihat
hal-hal yang paling dibutuhkan keluarga. Setiap perempuan memiliki masalah yang
berbeda, dan setiap perempuan harus bisa belajar mengatur skala prioritas, agar
menjadikannya seorang perempuan sejati.
Perempuan sejati
adalah seorang perempuan yang mampu bahagia dalam hidupnya, mampu mengatur
keluarganya sehingga keluarganya juga tumbuh berkembang dengan baik. Apapun
pilihan yang diambilnya, baik sebagai seorang ibu rumah tangga, maupun sebagai
wanita karir, atau kombinasi ke duanya, seorang perempuan tetap harus
mempertimbangkan dengan bijaksana kodratnya sebagai perempuan.
Dan saya bangga kepada
seorang figur perempuan, yang menurut saya mampu menjadi perempuan seutuhnya.
Menjadi seorang wanita karir sukses, sekaligus ibu dan istri yang penuh cinta.
Saya membanggakannya karena di mata saya, ia berhasil menjadi seorang perempuan
sejati. Saya membanggakannya sebagai seorang figur perempuan yang mampu menjadi
perempuan seutuhnya. Dalam pandangan saya, beliau adalah contoh perempuan yang
diidam-idamkan oleh Ibu Kartini pribadi. Inilah pandangan saya terhadap
perempuan, dalam kapasitas saya sebagai perempuan juga.
