Sabtu, 08 Oktober 2011

KANGEN

Malam turun semakin pekat, aku masih termangu di depan televisi yang menyala tanpa suara. Terasa sepi dan sunyi. Walau bisa kudengar senandung lembut mbok Yem dari dalam kamarnya, tetap tak bisa kuusir rasa sendiri yang diam-diam merajai hatiku.
Aku mendesah sedih.
Hans sedang keluar kota. Sebagai manager penjualan sebuah brand yang sedang berkembang pesat, ia terpaksa sering-sering keluar kota untuk menangani langsung masalah-masalah penjualan. Akibatnya aku, sebagai kekasihnya, sering merasa kesepian sendiri. Seperti malam minggu ini, lagi-lagi aku sendiri, hanya berteman ingatanku tentang senyum manisnya saja. Aku ingin meneleponnya, tetapi saat ini ia sedang berada di tengah rapat darurat dengan anak buahnya terkait masalah penjualan. Alhasil, aku hanya bisa merenungi televisi yang menyala tanpa suara.
Kangenku membuncah. Hans kekasihku yang setia. kami telah bersama selama 3 tahun, yang penuh keindahan. ia memperlakukanku dengan manis dan lembut, seakan-akan aku adalah makhluk paling berharga yang pernah ia temui.
Setiap saat ia memandangku, dengan sorot mata penuh kasih, saat itu juga aku selalu kembali jatuh cinta padanya. Perpisahan singkat seperti ini selalu menyiksaku. tetapi saat pertemuan kembali, selalu membuat aku takjub, perasaan cinta kami bertambah berkali-kali lipat. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin jatuh cinta lagi dan lagi kepada orang yang sama berkali-kali dan semakin lama semakin besar?
Ah... aku kembali mendesah. Rinduku semakin menderas. Hans tak pernah pergi dari hatiku, sama seperti aku selalu di hatinya.
Ia adalah belahan jiwaku, dan aku adalah rusuknya yang hilang.
Tiba-tiba..... "Kring, kring,kring...." suara telepon berbunyi lembut di sudut ruang.
Aku tersenyum bahagia, ini pasti Hans.
"Halo..." kataku
"Isabel....," lembut suara Hans di telingaku, hatiku lumer dalam bahagia.
"Isabel, i miss you like crazy...." katanya kemudian.
Aku tersenyum, " I miss you too... ".
Dan duniaku kembali terasa cerah penuh cahaya, kesepian terusir jauh. Hanya kehangatan yang kini kurasa.
"Cepat pulang Hans, aku rindu berada kembali dalam dekapmu," kataku
"Isabel, engkau tak pernah lepas dari dekapku. Dalam hati, selalu ada kamu yang kupeluk erat," bisiknya.
Dari pipiku mengalir sebutir air mata. Air mata bahagia. Sungguh cintanya membuatku bahagia.
Sungguh hanya ia yang selalu di hatiku.